contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

8/11/2016

Dear pembaca sekalian, maafkan diriku yang cukup lama vakum dari dunia kerajaan hahaha. (siapa juga yang baca elahhh). oke hari ini ada cerita mainstream di kerajaan tapi yaah namanya idup seseorang ada mirip mirip dikit lah yaa. oke silahkan dibaca :D

Siang itu, Tata bertemu dengan rekan sesama pelayan yang berasal dari Kerajaan tetangga. Ia mulai berguru di kerajaan itu ditahun yang sama dengannya, namun ia memilih untuk berguru dibagian kebendaharaan. Ia berumuran sebaya dengannya, dan ia bernama Agatha Windi. Konon, ayahnya menamai Windi karena ia dulunya terlahir di cuaca yang cukup ekstrim dimana angin berhembus sangat kencang setiap harinya. Ketika Tata dan Windi duduk bersama menikmati suguhan teh panas, ia mulai sedikit bercerita  tentang kisah kasihnya. Ia bercerita bagaimana bertemu dengan seseorang yang telah membuatnya bisa menikmati kehidupannya dan membawa kebahagiaan yang pernah hilang. Windi bekerja di bagian pemerintahan yang khusus menangani perniagaan kendaraan, seperti kuda untuk memanah, kuda perang hingga kuda kerajaan. Sembari menyusun surat-surat kerajaan yang masuk, ia mendengar bahwa dibagian perniagaan telah menerima abdi baru yang berasal dari Kerajaan di kota seberang. Baginya, tentu ini merupakan hal yang menyenangkan sebab selain mendapat rekan baru, hal ini juga dapat lebih memudahkannya dalam menyelesaikan pekerjaan.
1 tahun masa percobaan di bagian perniagaan umum, trainee itu akhirnya secara resmi diangkat oleh Perdana Menteri menjadi abdi tetap bagian perniagaan. Kemudian trainee itu ditempatkan dibagian surat-menyurat perniagaan kerajaan sama seperti Windi. Kepala tata kelola perniagaan, Yohan (read : pangkat untuk kepala bagian) Sosro mengatakan kepada seluruh abdi di bagiannya bahwa pada hari itu juga akan dilakukan sebuah upacara penerimaan abdi baru. Windi kemudian ditunjuk oleh Yohan  untuk menjadi pembawa selempang bunga. Trainee yang dimaksud telah tiba dan ia lalu mengenalkan dirinya sebagai Widi Murdoko. Semua abdi menyambutnya dengan penuh suka cita, tak terkecuali Windi. Well, Windi bukan orang yang mudah jatuh hati dengan orang lain terlebih baru ia temui, yang mungkin sekarang lebih dikenal dengan pepatah “love at first sight”. Windi merupakan wanita yang lebih memilih untuk mengenalnya melalui proses yang ada. Ia jatuh hati ketika ia sudah merasa mantab diri. Rupanya, hal itu juga dirasakan oleh Widi. Awalnya Widi memang seperti lelaki pada umumnya yang menyukai perempuan rupawan, namun menurutnya perempuan yang bisa membuatnya jatuh hati adalah perempuan yang rupawan karena rendah hatinya, unggah-ungguh (sopan santun dan tutur katanya). Widi menemukannya pada sosok Windi. Namun, ia masih membutuhkan waktu untuk memantabkan dirinya. Lama waktu berlalu, Windi dan Widi semakin dekat karena seringnya ikut kegiatan bersama. Ketertarikan mereka semakin besar dan akhirnya mereka mantab untuk berada dijalur merah muda yang sama.
Seluruh abdi bagian perniagaan telah mengetahui hubungan mereka, dan para abdi turut bahagia atas keduanya. Tak hanya itu, rupanya Windi mulai memberanikan diri mengajak Widi untuk bertemu keluarganya. Mereka berdua pergi bersama ditengah teriknya sinar matahari menuju kediaman Windi.  Sesampainya disana, Windi memperkenalkan Widi kepada romo biyungnya dan adik laki-lakinya yang bernama Brilly. Widi kemudian duduk diruang tamu sambil ngobrol bercanda ria dengan keluarga dan sanak familinya Windi. Sembari mengobrol dengan romonya Windi, Widi melihat sekeliling rumah yang mungkin ketika orang umum melihatnya akan beropini bahwa keluarga Windi adalah keluarga Katholik yang taat. Ia melihat begitu banyak tanda salib di setiap ruang, koleksi Rosario sang biyung yang ia kumpulkan dari berbagai macam negara yang pernah beliau kunjungi, serta patung bunda maria berukuran kecil yang terletak manis disudut ruangan. Sejatinya, Widi tak memusingkan hal itu karena ya dia datang untuk menyambung tali silaturahmi dengan kedua orangtua Windi.
          Seiring berjalannya waktu, Widi mulai akrab dengan kedua orang tua Windi dan ia sangat diterima dengan penuh kehangatan oleh keluarga Windi. Keluarga Windi pun tak mempermasalahkan perbedaan keyakinan diantara mereka. Ketika waktu ibadah tiba, keluarga Windi tak segan memberikan tempat yang nyaman untuk Widi beribadah sesuai ajarannya. Terkadang, ketika menginap mereka bahkan mengingatkan Widi untuk menjalankan ibadahnya saat adzan mulai berkumandang. Kehangatan ini juga dirasakan ketika Widi mengajak Windi untuk bersilaturahmi dengan kedua orangtuanya. Adik-adik Widi pun menyambutnya dengan suka cita. Hingga suatu saat romo biyungnya Widi mulai melihat ada yang berbeda dari Windi. Setiap kali diajak untuk sholat, ia selalu mengatakan bahwa ia sedang mengalami datang bulan. Hal ini membuat mereka kemudian mencoba bertanya langsung ke Windi apakah Windi memang benar tidak sholat (berbeda keyakinan) atau tidak. Waktu itu, Windi cukup gerogi dalam menjawabnya namun kemudian ia menjawabnya dengan rendah hati bahwa ia dan Widi memang memiliki perbedaan keyakinan. Romo biyungnya Widi hanya mengangguk saja dan tidak menanyakannya lagi akan perbedaan ini.
Bulan demi bulan berganti, umur Windi dan Widi pun semakin bertambah. Suasana pedesaan pun agaknya sedikit membuat gerah keluarga Widi, sebab pertanyaan kapan menikah selalu terlontar dari para tetangga. Perbedaan keyakinan inipun telah tersebar di kawasan kediaman orang tua Widi. Lelah menanggapi hal itu, orang tua dan sanak famili Widi hanya bisa menjawab dengan pasrah “yaa kalau jodoh ya ga kemana”. Dibalik kalimat itu, ada rasa khawatir yang cukup besar dihati orangtua Widi khususnya biyungnya. Bagi romonya, perbedaan ini tidak perlu dipikir terlalu keras. Namun bagi biyungnya, keyakinan haruslah dipegang teguh. Keyakinan adalah harga mati yang tak bisa digadaikan dengan apapun. Ia hanya khawatir jika Widi lah yang nantinya akan berubah, mengingat Windi merupakan penganut yang taat.  Setiap sepertiga malam terakhir, sang biyung hanya bisa sujud menghadap Illahi untuk berdoa supaya anak laki-laki semata wayangnya dipermudah dalam urusan jodohnya.

Hal itu pula yang dilakukan Windi, ia terus berdoa agar ia dipermudahkan dalam jodohnya. Pembaca sekalian, penulis masih belum tahu bagaimana ending dari short story ini. Penulis hanya berharap semoga Widi dan Windi bisa segera menentukan jalan yang tepat pada persimpangan yang tengah mereka pijaki. J

0
Diberdayakan oleh Blogger.

Search on this blog

!--Start Cuteki Calendar Widget v3-->

Followers