Dear pembaca sekalian, maafkan diriku yang cukup lama vakum dari dunia kerajaan hahaha. (siapa juga yang baca elahhh). oke hari ini ada cerita mainstream di kerajaan tapi yaah namanya idup seseorang ada mirip mirip dikit lah yaa. oke silahkan dibaca :D
Siang itu, Tata bertemu dengan rekan sesama
pelayan yang berasal dari Kerajaan tetangga. Ia mulai berguru di kerajaan itu
ditahun yang sama dengannya, namun ia memilih untuk berguru dibagian
kebendaharaan. Ia berumuran sebaya dengannya, dan ia bernama Agatha Windi. Konon,
ayahnya menamai Windi karena ia dulunya terlahir di cuaca yang cukup ekstrim
dimana angin berhembus sangat kencang setiap harinya. Ketika Tata dan Windi duduk bersama
menikmati suguhan teh panas, ia mulai sedikit bercerita tentang kisah kasihnya. Ia bercerita bagaimana
bertemu dengan seseorang yang telah membuatnya bisa menikmati kehidupannya dan
membawa kebahagiaan yang pernah hilang. Windi bekerja di bagian pemerintahan
yang khusus menangani perniagaan kendaraan, seperti kuda untuk memanah, kuda
perang hingga kuda kerajaan. Sembari menyusun surat-surat kerajaan yang masuk,
ia mendengar bahwa dibagian perniagaan telah menerima abdi baru yang berasal
dari Kerajaan di kota seberang. Baginya, tentu ini merupakan hal yang
menyenangkan sebab selain mendapat rekan baru, hal ini juga dapat lebih
memudahkannya dalam menyelesaikan pekerjaan.
1 tahun masa percobaan di bagian
perniagaan umum, trainee itu akhirnya secara resmi diangkat oleh Perdana
Menteri menjadi abdi tetap bagian perniagaan. Kemudian trainee itu ditempatkan
dibagian surat-menyurat perniagaan kerajaan sama seperti Windi. Kepala tata
kelola perniagaan, Yohan (read : pangkat untuk kepala bagian) Sosro mengatakan
kepada seluruh abdi di bagiannya bahwa pada hari itu juga akan dilakukan sebuah
upacara penerimaan abdi baru. Windi kemudian ditunjuk oleh Yohan untuk menjadi pembawa selempang bunga. Trainee
yang dimaksud telah tiba dan ia lalu mengenalkan dirinya sebagai Widi Murdoko. Semua
abdi menyambutnya dengan penuh suka cita, tak terkecuali Windi. Well, Windi
bukan orang yang mudah jatuh hati dengan orang lain terlebih baru ia temui,
yang mungkin sekarang lebih dikenal dengan pepatah “love at first sight”. Windi
merupakan wanita yang lebih memilih untuk mengenalnya melalui proses yang ada. Ia
jatuh hati ketika ia sudah merasa mantab diri. Rupanya, hal itu juga dirasakan
oleh Widi. Awalnya Widi memang seperti lelaki pada umumnya yang menyukai perempuan
rupawan, namun menurutnya perempuan yang bisa membuatnya jatuh hati adalah
perempuan yang rupawan karena rendah hatinya, unggah-ungguh (sopan santun dan
tutur katanya). Widi menemukannya pada sosok Windi. Namun, ia masih membutuhkan
waktu untuk memantabkan dirinya. Lama waktu berlalu, Windi dan Widi semakin
dekat karena seringnya ikut kegiatan bersama. Ketertarikan mereka semakin besar
dan akhirnya mereka mantab untuk berada dijalur merah muda yang sama.
Seluruh abdi bagian perniagaan telah
mengetahui hubungan mereka, dan para abdi turut bahagia atas keduanya. Tak hanya
itu, rupanya Windi mulai memberanikan diri mengajak Widi untuk bertemu keluarganya.
Mereka berdua pergi bersama ditengah teriknya sinar matahari menuju kediaman Windi.
Sesampainya disana, Windi memperkenalkan
Widi kepada romo biyungnya dan adik laki-lakinya yang bernama Brilly. Widi kemudian
duduk diruang tamu sambil ngobrol bercanda ria dengan keluarga dan sanak
familinya Windi. Sembari mengobrol dengan romonya Windi, Widi melihat
sekeliling rumah yang mungkin ketika orang umum melihatnya akan beropini bahwa
keluarga Windi adalah keluarga Katholik yang taat. Ia melihat begitu banyak
tanda salib di setiap ruang, koleksi Rosario sang biyung yang ia kumpulkan dari
berbagai macam negara yang pernah beliau kunjungi, serta patung bunda maria
berukuran kecil yang terletak manis disudut ruangan. Sejatinya, Widi tak
memusingkan hal itu karena ya dia datang untuk menyambung tali silaturahmi
dengan kedua orangtua Windi.
Seiring
berjalannya waktu, Widi mulai akrab dengan kedua orang tua Windi dan ia sangat diterima
dengan penuh kehangatan oleh keluarga Windi. Keluarga Windi pun tak
mempermasalahkan perbedaan keyakinan diantara mereka. Ketika waktu ibadah tiba,
keluarga Windi tak segan memberikan tempat yang nyaman untuk Widi beribadah
sesuai ajarannya. Terkadang, ketika menginap mereka bahkan mengingatkan Widi
untuk menjalankan ibadahnya saat adzan mulai berkumandang. Kehangatan ini juga
dirasakan ketika Widi mengajak Windi untuk bersilaturahmi dengan kedua
orangtuanya. Adik-adik Widi pun menyambutnya dengan suka cita. Hingga suatu
saat romo biyungnya Widi mulai melihat ada yang berbeda dari Windi. Setiap kali
diajak untuk sholat, ia selalu mengatakan bahwa ia sedang mengalami datang
bulan. Hal ini membuat mereka kemudian mencoba bertanya langsung ke Windi
apakah Windi memang benar tidak sholat (berbeda keyakinan) atau tidak. Waktu
itu, Windi cukup gerogi dalam menjawabnya namun kemudian ia menjawabnya dengan
rendah hati bahwa ia dan Widi memang memiliki perbedaan keyakinan. Romo
biyungnya Widi hanya mengangguk saja dan tidak menanyakannya lagi akan
perbedaan ini.
Bulan demi bulan berganti, umur
Windi dan Widi pun semakin bertambah. Suasana pedesaan pun agaknya sedikit
membuat gerah keluarga Widi, sebab pertanyaan kapan menikah selalu terlontar
dari para tetangga. Perbedaan keyakinan inipun telah tersebar di kawasan kediaman
orang tua Widi. Lelah menanggapi hal itu, orang tua dan sanak famili Widi hanya
bisa menjawab dengan pasrah “yaa kalau jodoh ya ga kemana”. Dibalik kalimat
itu, ada rasa khawatir yang cukup besar dihati orangtua Widi khususnya
biyungnya. Bagi romonya, perbedaan ini tidak perlu dipikir terlalu keras. Namun
bagi biyungnya, keyakinan haruslah dipegang teguh. Keyakinan adalah harga mati yang
tak bisa digadaikan dengan apapun. Ia hanya khawatir jika Widi lah yang
nantinya akan berubah, mengingat Windi merupakan penganut yang taat. Setiap sepertiga malam terakhir, sang biyung hanya
bisa sujud menghadap Illahi untuk berdoa supaya anak laki-laki semata wayangnya
dipermudah dalam urusan jodohnya.
Hal itu pula yang dilakukan Windi,
ia terus berdoa agar ia dipermudahkan dalam jodohnya. Pembaca sekalian, penulis
masih belum tahu bagaimana ending dari short story ini. Penulis hanya
berharap semoga Widi dan Windi bisa segera menentukan jalan yang tepat pada persimpangan
yang tengah mereka pijaki. J





