contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

8/11/2016

Dear pembaca sekalian, maafkan diriku yang cukup lama vakum dari dunia kerajaan hahaha. (siapa juga yang baca elahhh). oke hari ini ada cerita mainstream di kerajaan tapi yaah namanya idup seseorang ada mirip mirip dikit lah yaa. oke silahkan dibaca :D

Siang itu, Tata bertemu dengan rekan sesama pelayan yang berasal dari Kerajaan tetangga. Ia mulai berguru di kerajaan itu ditahun yang sama dengannya, namun ia memilih untuk berguru dibagian kebendaharaan. Ia berumuran sebaya dengannya, dan ia bernama Agatha Windi. Konon, ayahnya menamai Windi karena ia dulunya terlahir di cuaca yang cukup ekstrim dimana angin berhembus sangat kencang setiap harinya. Ketika Tata dan Windi duduk bersama menikmati suguhan teh panas, ia mulai sedikit bercerita  tentang kisah kasihnya. Ia bercerita bagaimana bertemu dengan seseorang yang telah membuatnya bisa menikmati kehidupannya dan membawa kebahagiaan yang pernah hilang. Windi bekerja di bagian pemerintahan yang khusus menangani perniagaan kendaraan, seperti kuda untuk memanah, kuda perang hingga kuda kerajaan. Sembari menyusun surat-surat kerajaan yang masuk, ia mendengar bahwa dibagian perniagaan telah menerima abdi baru yang berasal dari Kerajaan di kota seberang. Baginya, tentu ini merupakan hal yang menyenangkan sebab selain mendapat rekan baru, hal ini juga dapat lebih memudahkannya dalam menyelesaikan pekerjaan.
1 tahun masa percobaan di bagian perniagaan umum, trainee itu akhirnya secara resmi diangkat oleh Perdana Menteri menjadi abdi tetap bagian perniagaan. Kemudian trainee itu ditempatkan dibagian surat-menyurat perniagaan kerajaan sama seperti Windi. Kepala tata kelola perniagaan, Yohan (read : pangkat untuk kepala bagian) Sosro mengatakan kepada seluruh abdi di bagiannya bahwa pada hari itu juga akan dilakukan sebuah upacara penerimaan abdi baru. Windi kemudian ditunjuk oleh Yohan  untuk menjadi pembawa selempang bunga. Trainee yang dimaksud telah tiba dan ia lalu mengenalkan dirinya sebagai Widi Murdoko. Semua abdi menyambutnya dengan penuh suka cita, tak terkecuali Windi. Well, Windi bukan orang yang mudah jatuh hati dengan orang lain terlebih baru ia temui, yang mungkin sekarang lebih dikenal dengan pepatah “love at first sight”. Windi merupakan wanita yang lebih memilih untuk mengenalnya melalui proses yang ada. Ia jatuh hati ketika ia sudah merasa mantab diri. Rupanya, hal itu juga dirasakan oleh Widi. Awalnya Widi memang seperti lelaki pada umumnya yang menyukai perempuan rupawan, namun menurutnya perempuan yang bisa membuatnya jatuh hati adalah perempuan yang rupawan karena rendah hatinya, unggah-ungguh (sopan santun dan tutur katanya). Widi menemukannya pada sosok Windi. Namun, ia masih membutuhkan waktu untuk memantabkan dirinya. Lama waktu berlalu, Windi dan Widi semakin dekat karena seringnya ikut kegiatan bersama. Ketertarikan mereka semakin besar dan akhirnya mereka mantab untuk berada dijalur merah muda yang sama.
Seluruh abdi bagian perniagaan telah mengetahui hubungan mereka, dan para abdi turut bahagia atas keduanya. Tak hanya itu, rupanya Windi mulai memberanikan diri mengajak Widi untuk bertemu keluarganya. Mereka berdua pergi bersama ditengah teriknya sinar matahari menuju kediaman Windi.  Sesampainya disana, Windi memperkenalkan Widi kepada romo biyungnya dan adik laki-lakinya yang bernama Brilly. Widi kemudian duduk diruang tamu sambil ngobrol bercanda ria dengan keluarga dan sanak familinya Windi. Sembari mengobrol dengan romonya Windi, Widi melihat sekeliling rumah yang mungkin ketika orang umum melihatnya akan beropini bahwa keluarga Windi adalah keluarga Katholik yang taat. Ia melihat begitu banyak tanda salib di setiap ruang, koleksi Rosario sang biyung yang ia kumpulkan dari berbagai macam negara yang pernah beliau kunjungi, serta patung bunda maria berukuran kecil yang terletak manis disudut ruangan. Sejatinya, Widi tak memusingkan hal itu karena ya dia datang untuk menyambung tali silaturahmi dengan kedua orangtua Windi.
          Seiring berjalannya waktu, Widi mulai akrab dengan kedua orang tua Windi dan ia sangat diterima dengan penuh kehangatan oleh keluarga Windi. Keluarga Windi pun tak mempermasalahkan perbedaan keyakinan diantara mereka. Ketika waktu ibadah tiba, keluarga Windi tak segan memberikan tempat yang nyaman untuk Widi beribadah sesuai ajarannya. Terkadang, ketika menginap mereka bahkan mengingatkan Widi untuk menjalankan ibadahnya saat adzan mulai berkumandang. Kehangatan ini juga dirasakan ketika Widi mengajak Windi untuk bersilaturahmi dengan kedua orangtuanya. Adik-adik Widi pun menyambutnya dengan suka cita. Hingga suatu saat romo biyungnya Widi mulai melihat ada yang berbeda dari Windi. Setiap kali diajak untuk sholat, ia selalu mengatakan bahwa ia sedang mengalami datang bulan. Hal ini membuat mereka kemudian mencoba bertanya langsung ke Windi apakah Windi memang benar tidak sholat (berbeda keyakinan) atau tidak. Waktu itu, Windi cukup gerogi dalam menjawabnya namun kemudian ia menjawabnya dengan rendah hati bahwa ia dan Widi memang memiliki perbedaan keyakinan. Romo biyungnya Widi hanya mengangguk saja dan tidak menanyakannya lagi akan perbedaan ini.
Bulan demi bulan berganti, umur Windi dan Widi pun semakin bertambah. Suasana pedesaan pun agaknya sedikit membuat gerah keluarga Widi, sebab pertanyaan kapan menikah selalu terlontar dari para tetangga. Perbedaan keyakinan inipun telah tersebar di kawasan kediaman orang tua Widi. Lelah menanggapi hal itu, orang tua dan sanak famili Widi hanya bisa menjawab dengan pasrah “yaa kalau jodoh ya ga kemana”. Dibalik kalimat itu, ada rasa khawatir yang cukup besar dihati orangtua Widi khususnya biyungnya. Bagi romonya, perbedaan ini tidak perlu dipikir terlalu keras. Namun bagi biyungnya, keyakinan haruslah dipegang teguh. Keyakinan adalah harga mati yang tak bisa digadaikan dengan apapun. Ia hanya khawatir jika Widi lah yang nantinya akan berubah, mengingat Windi merupakan penganut yang taat.  Setiap sepertiga malam terakhir, sang biyung hanya bisa sujud menghadap Illahi untuk berdoa supaya anak laki-laki semata wayangnya dipermudah dalam urusan jodohnya.

Hal itu pula yang dilakukan Windi, ia terus berdoa agar ia dipermudahkan dalam jodohnya. Pembaca sekalian, penulis masih belum tahu bagaimana ending dari short story ini. Penulis hanya berharap semoga Widi dan Windi bisa segera menentukan jalan yang tepat pada persimpangan yang tengah mereka pijaki. J

0
12/23/2015

Bagian VII (Pertemuan dan Perpisahan)
23 Desember 2015
Hari ini Tata sedang berjalan – jalan manja sendirian di taman. Sembari menikmati pemandangan sekitar, ia melihat ada rombongan prajurit berbusana hijau elegan mengendarai kereta kuda panjang. Dia melihat kereta itu hingga akhir iring-iringan para prajurit tersebut, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada kereta kuda terakhir di rombongan tersebut. Didalam kereta kuda tampak ada 5 pemuda rupawan yang tengah bercengkerama. Namun ternyata kereta kuda tersebut berhenti disuatu istana mewah milik salah satu pembesar raja. Para prajurit rupawan tadi kemudian turun dari kereta kuda dan menghampiri Tata yang tengah sibuk memperhatikan mereka. Mereka bertanya jalan pada Tata karena memang kebetulan hanya ada Tata di posisi itu. Tata pun mulai menjelaskan arah lokasi yang dimaksud para prajurit tersebut. Setelah itu Tata dan para prajurit rupawan mulai memperkenalkan diri. Prajurit 1 dengan gagah berani memperkenalkan diri sebagai Ozu. Prajurit yang kedua juga dengan percaya diri memperkenalkan namanya yaitu Rova, dan prajurit ketiga bernama Fuza. Prajurit keempat bernama Abidzar. Sedangkan prajurit kelima adalah prajurit yang kurang begitu gagah memperkenalkan dirinya karena ternyata ia tak percaya diri dengan namanya. Tata justru melihat ada yang aneh dengan prajurit nomor lima ini. Ia berpikir dalam “masa iya prajurit tidak Pe-De begini?” kemudian pun Tata dengan tegas mengatakan “Untuk apa kamu malu dengan namamu. Fisikmu pun tak kalah rupawan dari prajurit lainnya! Katakanlah siapa namamu!? Atau aku harus memanggilmu dengan nama prajurit nomor 5?” Dan akhirnya dengan lantang ia ucapkan namanya “Baiklah. Aku akan mengatakan siapa namaku. Namaku adalah Zuardo. You can call me Zur. Tata pun tersenyum melihat kegagahan dirinya. Para prajurit itu kemudian berterimakasih dan melambaikan tangan ke Tata untuk melanjutkan perjalanan. Tata lalu memanggil Zur (setengah berteriak) dan mengatakan bahwa “Zuurrr. Kau pun sama gagahnya dengan mereka. Jangan pernah minder dengan siapapun! Okay!”
Zur mengangguk dan berlalu. Tata merasa senang ketika melihat Zur sedikit percaya diri. Entah mengapa Tata adalah orang yang bisa dengan mudah menebak pikiran orang. Ketika melihat Zur pertama kali, ia merasa bahwa Zur kurang percaya diri ketika disandingkan dengan prajurit – prajurit lainnya. Setelah melihat hal itu, ia pun akhirnya memacu semangat Zur dan ia berharap semangat Zur selalu ada.
3 minggu berlalu, Tata harus menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pelayan. Kali ini ia ditugaskan oleh dewan untuk mengikuti serangkaian kegiatan keterampilan pemanahan di Kerajaan seberang. Ia pun memenuhi permintaan dewannya. Ia mulai berkelana menuju Kerajaan yang dimaksud. Sesampainya ia disana, ia langsung dilatih oleh para pemanah handal. Hampir seminggu lebih ia berguru di kerajaan itu. Namun suatu saat, pelatihnya dipanggil oleh dewan kerajaan untuk membantu para prajurit berlatih memanah selama 2 minggu. Pelatihnya mematuhi permintaan dewan kerajaannya. Mendengar hal itu, Tata pun bisa sedikit bernapas lega karena akhirnya ia memiliki waktu untuk beristirahat dan melatih keterampilan lainnya. Di kerajaan itu memang disediakan kelas keguruan untuk umum. Salah satu kelas yang diminati Tata adalah kelas menari. Suatu saat ketika ia akan berganti busana, ia melihat prajurit yang dulu pernah mendatangi Tata. Ya kelima prajurit itu. Tata pun merasa sangat bahagia ketika ternyata dia dipertemukan kembali dengan mereka. Dengan masih berbusana tari, ia berlari menuruni tangga menuju kelima prajurit itu. ketika ia sampai di lantai ke dua, ia melihat pemandangan yang sedikit mengganjal. Rupa-rupanya Ozu, Rova, Fuza dan Abidzar tengah mengerjai Zuardo. Ozu dan Fuza memegang tangan Zur, Rova menutup mulut Zur, dan Abidzar mengikat tubuh Zur ke salah satu bangku taman. Melihat hal itu, Tata pun segera berlari menhampiri mereka.
“Heiii apa yang kalian lakukann????”
Kelima prajurit tersebut menoleh ke Tata. “Kau? Bagaimana bisa kau disini?” tanya Ozu pada Tata.
Belum sempat Tata menjawab, sirine kelas telah berbunyi. Para prajurit tidak diperkenankan masuk kelas dengan terlambat. Ada kebimbangan diantara keempat prajurit itu, apakah mereka meninggalkan Zur ataukan membantu melepaskan ikatan Zur. Namun akhirnya Zur dengan rendah hati mengangguk, mengisyaratkan untuk mereka pergi dahulu. Keempat prajurit itu hanya mengatakan “maaf Zur.. kamu duluan ya. Maaf Zur.”
Ozu pun berkata “Hei Kau. Tolong Zur ya hahaha.  Maaf, terimakasih” mereka meninggalkan Tata dan Zur ditaman itu sambil berlalu.
“Zuurr.. kenapa kamu mau sih diginiin? Itu mereka juga malah ninggalin kamu?” Tata membantu melepaskan ikatan yang mengikat Zur. Zur hanya diam saja dan malah tersenyum simpul.
“Zur zur. Kamu telat emang gapapa? Bukankah prajurit seharusnya bisa disiplin?”
“Ya kau benar Ta. Tapi aku sedang ditugaskan khusus untuk menyusun ulang taman ini. Jadi aku tak harus mengikuti kelas untuk 3 hari kedepan. Tapi ya begitu, ketika aku sedang mencoba membuat konsep, mereka mengerjaiku. Mereka memang sering mengerjaiku akhir-akhir ini.”
“oh ku kira mereka benar – benar akan meninggalkanmu. Oke sudah terlepas”
“enggak kok. Oke makasih btw sudah membantu. Hehehe. Oiya kau sendiri sedang apa disini? Bagaimana bisa kau disini. Ini kan kerajaan yang biasanya dipakai prajurit untuk berlatih. Mengapa bisa kau kesini?”
“Ah. Iya jadi dewan di kerajaanku memintaku untuk berguru pemanahan disini. Tapi 2 minggu kedepan, guruku akan mengajar kalian. Jadi sembari menunggu kalian seleai berlatih, aku mengikuti kelas tarian.”
“Oh begitu.” Timpal Zur.
Zur. Entah kenapa kalau aku melihatmu aku semakin teringat dengan cadagung dikerajaanku. Bahkan kalian memiliki sifat yang tidak begitu berbeda. Dalam hati, Tata berpikir demikian.  Tapi entahlah, Tata hanya bisa memikirkannya dalam hati dan tak bisa mengungkapkannya. Ia bahkan tak begitu tertarik dengan cadagung itu, tapi rekan – rekan pelayannya hanya mengetahui kalau Tata mengaguminya. Ia masih terkesan dengan rekan pelatihannya dahulu. Konon kabarnya, rekan pelatihannya telah menjadi dewan agung di kerajaannya. Mengetahui hal itu, Tata sangat ingin mengucapkan selamat padanya, namun apa daya. Ia hanya seorang pelayan biasa. Mana mungkin ia bisa berhadapan langsung dengan dewan agung tanpa melewati protokoler kerajaan. Ia hanya berharap bahwa suatu saat nanti, ia bisa dipertemukan dengan rekan pelatihannya itu dalam keadaan dan situasi yang sebaik-baiknya. Well, setelah sejenak tenggelam dalam pikirannya, Tata akhirnya berpamitan pada Zur untuk kembali ke asramanya. Mengingat ia harus segera berganti busana dan mengikuti kelas keterampilan lainnya. Zur pun melanjutkan pematangan konsep landskap yang sedang ia konsepkan.
                Oiya ya gengs, saya mau menceritakan tentang Tata lagi. Jadi kini Tata telah diangkat sebagai kepala Pemberdayaan Pelayan di Paguyubannya. Namun ada hal yang sedang membuat Tata begitu sedih. Hal itu adalah karena para rekan sesama pelayan dibagiannya tidak minat lagi untuk menjadi pelayan di paguyuban itu. Banyak diantara pelayan itu yang merasa bahwa mereka tak mendapatkan benefit yang mereka inginkan ketika mereka menjadi pelayan disana. Padahal banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan dibagian Tata. Tapi bagaimana, Tata khawatir jika ia hanya bekerja sendirian. Memang ia akan dibantu oleh kepala pelayan bagian lainnya, tetapi mereka tak mungkin membantunya penuh karena mereka memiliki tugasnya masing-masing. Tata merasa ditinggalkan. Jadi bagaimanakah ini? apakah yang seharusnya dilakukan oleh Tata? Ingin sekali Tata mencurahkan isi hatinya. Tapi iapun tak tahu kepada siapakah ia harus melakukan itu. Kepada Zur? Itu tak mungkin karena ia bahkan tak mengenalnya. Kepada Seeta dan Adeul? Mereka bahkan belumlah mengerti apa yang dialami oleh Tata. Mungkin inilah yang dikhawatirkan oleh Qabila ketika pengangkatan Tata sebagai kepala pemeberdayaan pelayan. Ia sangat mengetahui bahwa Tata tak memiliki pasukan yang bisa diandalkannya setiap saat. Ia sama halnya dengan Qabila dari sisi pasukan. Tapi bedanya, Qabila mudah sekali mempengaruhi pelayan untuk ikut bersamanya. She has a double power. Sedangkan Tata ya hanya mengandalkan dirinya sendiri. So my dear readers, do you have any idea to help her?


0
12/12/2015

Bagian VI (dari Pelayan menjadi Dewan Pemula)
11 Desember 2015
                Hallo.. tanggal berapa nih? 11 Desember yah. Hmmm sudah lama ya kayanya belum upgrade dongeng tentang Purita dan Kerajaan – kerajaannya. Oke hari ini aku mau nyeritain lagi nih pengembaraan Purita. Bulan ini adalah bulan – bulan terpadatnya seluruh kerajaan di lingkungan Ketawir. Di bulan ini terdapat banyak sekali dewa pemula yang menawarkan diri untuk berkarya di masing – masing kerajaan dengan menjadi dewa agung. Tahun ini memang sedikit berbeda dari tahun – tahun sebelumnya, dimana persaingan diantara para dewan pemula ini tidaklah terlalu ketat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara pandang mereka dengan cadagung lainnya. Mereka, para dewan pemula ini justru saling mendukung dalam proses untuk mendapatkan tahta terbesar di kerajaan bagian ini. Walaupun mereka harus saling berkompetisi untuk mendapatkan dukungan dari para pelayan biasa. Ya mungkin Tata hanya melihat dari sisi luarnya saja, karena memang dia hanya memantau berdasarkan hasil pelaporan kegiatan oleh dewan penyiaran kerajaan bagian (DPKB) maupun dari dewan penyiaran kerajaan umum (DPKU). Berdasarkan hasil pemantauan Tata dari berbagai DPKB, ternyata ada beberapa kerajaan bagian yang mengalami pelanggaran dalam penyeleksian cadagung. Namun akhirnya permasalahan tersebut dapat segera terselesaikan. So Purita said “Alhamdulillah” for that. Well, tujuan – tujuan cadagung yang tertuang dalam visi misi dan rencana strategis mereka pun juga dikemas dengan cara yang rapih dan keren. Selain kemasannya yang menarik ada hal lagi yang menjadi pemanis dari itu, yakni tagline yang mereka usung. Banyak sekali tagline unik yang diusung para cadagung. Mulai dari kamu, gue, yuklah, esensi, suka dan lain lain. Tagline – tagline keren ini tentunya ga sembarangan dong. Ada makna – makna khusus dibalik tagline ini. Yang jelas dan pasti tagline yang mereka usung mewakili semangat perjuangan para cadagung untuk melakukan pengabdiannya selama setahun kedepan jika mereka berhasil dianugerahi tahta tersebut.
                Baru – baru ini Tata juga mendapatkan tawaran oleh dewa agung tempat ia bekerja. Jadi Tata ditawari untuk menjadi penasehat pusat pelayanan kerajaan. Awalnya Tata masih ragu gitu, apakah tawaran itu akan diambil ataukah di berikan ke pelayan lain saja yang lebih mumpuni kesaktiannya. Tata merasa belum pantas menjadi penasehat karena kesaktian Tata yang belum lah seberapa. Dia masih bingung gitu gengs. Tapi melihat rekan sesama pelayan Kelanam yang terlebih dahulu diangkat menjadi penasehat, serta motivasi – motivasi yang pernah ia dengar, ia malah menjadi dilema. Ada satu riwayat yang disampaikan oleh bekas dewa agung Kerajaan Penyembuhan kepada siapapun yang mau merubah level pengabdiannya “tahta mungkin akan diberikan kepada mereka yang masih ragu akan kapasitas dirinya sebagai perwujudan pendewasaan diri. Tapi tahta juga akan diberikan kepada mereka yang terlalu yakin akan kapasitas dirinya sebagai bentuk kesiapan diri untuk bertanggungjawab akan tahta yang lebih besar.” Namun Tata berpikir “ah betapa kurang pantasnya aku akan tahta itu”. Menjadi penasehat pusat pelayanan kerajaan tidak hanya sekedar untuk keren – kerennan agar dikenal banyak rakyat. Berada pada Tahta itu juga harus siap mengajak pelayan lain untuk berkarya bersama, setidaknya bisa menebarkan energi positif ke pelayan lain agar pelayan lain mau mengeksplorasi potensi dalam dirinya serta mau mengembangkannya. Berada pada tahta itu juga harus siap mendengarkan keluh kesah pelayan dan para rakyat biasa, yang kemudian mampu memberikan tawaran solusi. Berada pada tahta itu ga main – main karena ini menyangkut responsibility. Berada pada tahta itu pula, berarti harus mampu melihat proses yang sedang dijalani pelayan lain agar setingkat dengan dia yang berada pada tahta itu. Walaupun sudah mendapat anugerah tahta, itu bukanlah hal yang harus membuat seorang palayan atau dewan kemudian tidak mau melihat proses rekannya. Justru berada pada tingkat itu, dia harus mampu memberikan energi positif ke rekannya agar terus berproses dan berkarya. Berada pada tingkat itu bukan berarti dia dengan seenak hati mematahkan energi kesaktian rekan lainnya, walaupun hanya sebatas joke. Berada pada tingkat itu berarti harus siap menjadi panutan pelayan dan rakyat biasa yang artinya harus mampu menjaga lisan dan perilaku. Pepatah Jawa mengatakan “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. I think it almost equal with “The right man on the right place”.
                Riwayat – riwayat akan tahta banyak sekali di dengung – dengungkan, sehingga hal itulah yang semakin membuat Tata memiliki banyak renungan. Namun ada riwayat lain yang menyatakan bahwa kalau tak ambil tahta itu, kamu ga akan tahu bagaimana cara kamu mengemban tahta itu. Kamu ga akan pernah tahu bagaimana cara yang tepat untuk menciptakan esensi di suatu iklim. Jadi ambillah kesempatan itu dan tetaplah rendah hati. biarkan orang lain yang menilai caramu memimpin sebagai perbaikan akan dirimu untuk karya mu selanjutnya. Untuk Tata, saya sebagai penulis kisah pengembaraanmu di kerajaan yang kau singgahi sekarang hanya bisa mengatakan bahwa semua pilihan ada di tanganmu. Apapun langkah yang kau ambil, selalu libatkanlah Tuhan. Karena hanya kuasa sang Gusti Pangeran lah yang mampu menunjukkan jalan terbaik untukmu. Hanya dengan awali dengan basmallah serta akhiri dengan istighfar dan hamdalah. Berpegang teguh dengan agama yang kau imani. Ingatlah bahwa agama ageming aji. Syemangat Tataaaa J.  



0
11/25/2015



Haloo..
Hi there,
Ini aku persembahkan video tentang perjalanan para "pelayan" yang kini telah mengabdikan dirinya sebagai Raja / Ratu istana mereka masing2.
Video ini mewakili perjalanan seorang pelayan yang kini berusaha untuk memaknai setiap sendi kehidupan yang ia jalani.
Video ini pula mempersembahkan rangkaian proses PPTB yakni perjalanan pelayan tingkat basic.
Dari sini lah seorang pelayan itu banyak belajar akan makna BBM (bersatu-beraksi-menginspirasi)
So happy to memorize it. Enjoy!

0
11/21/2015

Hari Sabtu tanggal 21 November 2015
PDATT (Persiapan Dewa Agung Tingkat Tengah)
Halo semangat pagi!!!

Hari ini aku mau nyeritain kegiatan terdekat Purita di Kerajaan Antawirya. 2 hari yang lalu yaitu hari Sabtu dan Minggu, Tata mengikuti kegiatan persiapan dewa agung tingkat tengah (PDATT). Dia ga mengikuti PDATT sebagai cadagung alias calon dewa agung tapi hanya sebagai pelayan saja. Hari pertama PDATT, Tata menjadi pemerhati waktu sebagai peringatan kepada pengisi kegiatan. Pengisi kegiatan sangatlah hebat. Ada 4 pengisi waktu itu yakni bekas raja Ketawir 2 tahun yang lalu, bekas wakil raja setahun silam, bekas panglima abdi kerakyatan dan sang Raja saat ini. Keempat pengisi ini memang memiliki kesaktiannya masing-masing, namun sebetulnya tetap ada benang merah yang menyambungkan kesaktian keempat dewan – dewan kehormatan tersebut, yakni sama-sama pernah menduduki tahta paling tinggi diantara rakyat Ketawir.
Selama keberjalanan acara, Tata hanya jagongan (read:duduk) di pendopo paling belakang sembari mengawasi para cadagung. Ada hal menarik yang dapat dipetik Tata waktu itu, yakni ketika sang raja 2 tahun silam berkata bahwasanya lebih baik rakyat Ketawir jagong manis dan diam saja, tak usah lah pandai-pandai menghebohkan kerajaan dengan melakukan penyerbuan Nagari Besar. Karena ketika para rakyat Kerajaan Kesatuan di Nagari Besar mengangkat bambunya, maka akan berimbas pada saudagar khususnya yang sedang menanamkan modalnya di suatu wilayah di Nagari Besar. Yang menjadi menarik adalah karena pada dasarnya dahulu kala sang raja 2 tahun silam juga termasuk warga biasa pada salah satu Kerajaan Kesatuan yakni Ketawir. Sedangkan ketika ia telah mengepakkan sayapnya di luar Kerajaan, sang baginda justru berkata demikian. Sungguh ironi ketika ternyata banyak dewan kehormatan yang dulu ketika masih menjadi warga Kerajaan Kesatuan memiliki jiwa membara untuk sesering mungkin mengangkat bambunya menyerang Nagari Besar, justru kini tidak lagi memiliki semangat yang sama ketika telah keluar dari Kerajaan Kesatuan. Mungkin inilah yang sangat disayangkan tentunya oleh para warga khususnya warga peneliti dan pedagang atas ketidaksikronisasi antara ucapan dan perbuatan di awal dengan diakhir. Mungkin inilah yang semakin membuat lesunya semangat para warga biasa untuk mengangkat bambunya lagi. Lama – kelamaan mungkin mereka akan lebih memilih untuk mengukir bambunya menjadi aksesoris – aksesoris hidup dan kenangan manis daripada mengangkatnya namun mendapati akhir yang sia-sia.
PDATT Day 2 yakni pelepasan para cadagung ke wilayah – wilayah terpencil bagian Nagari Besar Jarangasem yang tidak disangka ternyata ada bagian Nagari Besar Jarangasem yang masih serba kekurangan. Kalau adik Tata bilangnya sih “dibalik Istana mewah terdapat pendopo – pendopo kecil yang terabaikan”. Ironi memang untuk Nagari Besar Jarangasem yang begitu padatnya masih terdapat banyak ketimpangan diwilayahnya. Bagi sebagian rakyat yang sudah pernah berekspansi ke Jarangasem pasti akan sedikit terkejut dengan realita yang ada. Terlebih lagi bagi mereka yang selama ini hanya menetap di lingkungan Istana, hanya bisa melihat keindahan wilayah Istana di bagian depan. Mereka tak tahu bahwa sebetulnya banyak sebagian warga Jarangasem yang belum begitu merasakan kemakmuran di antara para warga lingkungan Istana lainnya. Harapannya memang para Dewan Kehormatan dan Raja Nagari Besar Jarangasem ikut menjelajahi wilayahnya dan membagikan kemakmuran seadil-adilnya.
Oke itu sekilas keprihatinan saya sebagai penulis yang ikut prihatin akan dongeng Tata. Well, dibalik itu, Tata sesungguhnya merasakan kebahagiaan sebagai dirinya pribadi. Setelah adanya kesimpang siuran infomrasi terkait lokasi wilayah yang akan ia sambangi bersama pelayan lainnya, akhirnya ia memiliki partner yang telah mengetahui akses terdekat menuju wilayah itu. sehingga ia dapat menyambangi wilayah dengan cukup tenang. Rupa-rupanya partner barunya ini berasal dari Kebatan. Dia ambil bidang Tabib dan Pengobatan. Waaaww seorang tabib. Sebetulnya ga ada yang menarik sih dengan hal ini. Hanya saja di Ketawir, seorang Tabib adalah profesi idaman semua warga. Nama partner Tata ini adalah Kindo. Kindo ini adalah pelayan laki – laki yang sekarang sedang berkarya di bagian pelayanan abdi rakyat. Tak hanya berdua, mereka juga ditemani oleh adik sesama pelayan dari Kenyur yaitu Richy. Richy dan Kindo bagaikan pengawal Tata karena Tata hanya satu-satunya pelayan wanita yang bertugas mengawasi para cadagung. Selama perjalanan, Tata dan Kindo berbicara banyak hal. Mulai dari kondisi jalan setapak yang mereka lalui, kondisi wilayahnya dan banyak hal lainnya. Sesampainya di pendopo utama dewan adat di wilayah tujuan, Tata mengarahkan para cadagung untuk menyebar ke seluruh wilayah tersebut untuk melihat – lihat kondisi sesungguhnya. Sembari menunggu mereka selesai, Tata dan Richy pergi mencari rumah dewan adat tingkat 2 sedangkan Kindo menjaga para kuda tunggangan agar tidak kemana-mana. Tata dan Richy berkeliling dari pendopo satu ke pendopo lain akhirnya mereka menemukan rumah dewan adat 2. Setelah berbincang cukup lama akhirnya mereka berdua kembali lagi ke pendopo utama menemui Kindo. Tinggal mereka bertiga saja di tempat itu, karena cadagung sedang melaksanakan tugasnya. Untungnya memang mereka bertiga bukanlah orang yang pendiam. Ada bahasan – bahasan menarik yang semakin membuat mereka betah untuk ngobrol bertiga. Mulai pengalamannya menjadi pelayan, pengalamannya di bidang kelimuannya masing – masing hingga obrolan yang sifatnya pribadi alias tentang kejonesan mereka. Walaupun mereka tinggal di kerajaan sebagai pelayan, namun mereka cukup apdet istilah – istilah warga perantauan seperti jones (jomblo happiness), baper (banyak perhatian) dan istilah lainnya yang sedang nge-hits saat ini. Saking senengnya keasyikan ngobrol, sampai akhirnya mereka diperingati oleh dewan kemananan pendopo utama untuk memperkecil volume mereka bertiga. Ya peringatannya tidak dengan marah – marah atau bagaimana, hanya melalui sebuah gedoran kecil di tiang pendopo. Ga berapa lama volume suara mereka bertiga kembali mengeras karena ketawa ketiwi tentang topik bahasan mereka.
Bukan pertama kali memang Tata merasa bahagia dan enjoy ngobrol ngalor – ngidul dengan orang yang baru dikenalnya. Sebetulnya Tata mudah menyesuaikan diri cuma ya bergantung pada siapa lawan bicaranya. Nah kebetulan Richy dan Kindo adalah orang yang cukup seide dengan Tata, sehingga mereka bisa enjoy mau ngobrolin apa aja. Well, inilah akhir keseruan cerita kali ini. Semoga cerita – cerita berikutnya ga kalah menariknya dengan cerita sebelumnya.

Regard,

Writter

0
8/20/2015

Final the Mission dan Bertemu Kawan Lama
Hari Ahad tanggal 9 Agustus 2015
Pagi ini Tata masih di gubug asalnya dan belum ke perantauan. Pada malam sebelumnya, dia mendapat mandat dari Sakode seorang pemuka dari geng seusianya yang bernama Kuda Melayang (aku juga ga begitu paham maksudnya sih hahaha), untuk mencari – cari dan survei ke pasar untuk membeli hadiah buat acara pagelaran pesta kebebasan. Acara ini memang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Disamping itu, ia juga ingin pemanasan otot di gelanggang arena di daerahnya. Karena setiap hari Ahad, di tempat itu ada latihan pemanasan otot dan kebugaran yang dipimpin oleh kisana ahli kebugaran dari wilayah seberang. Nah akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke gelanggang arena untuk mengikuti latihan kebugaran, baru setelah itu langsung cus ke pasar. Keesokkan harinya,tepat pukul lima ia bersiap – siap menuju ke gelanggang. Sembari menunggu kawan lain yaitu Roseeta dan Adeulia yang menghampirinya, ia menyapu bagian halaman depan dan ruang tamu di gubugnya. Yah walaupun gubugnya hanya sederhana, namun setidaknya bisa menampung lebih dari 20 orang. Waktu menunjukkan pukul 05.30, sedangkan yang ditunggu sedari tadi belum menampakkan batang hidungnya. Hatinya mulai cemas, resah dan gelisah gengs. Tak tahu lagi harus ngapain kah. Ia pun mencoba menghubungi keduanya dengan telepati kelas raja. 1 kali, 2 kali, 3 kali belum tersambung juga. Akhirnya ia mengerjakan pekerjaan gubug yang lainnya. Tak berapa lama kemudian Tata merasakan gelombang yang bergetar dari alat komunikasinya. Rupa – rupanya, Seeta dan Adeul telah menghubunginya. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di depan pintu gubugnya. Mereka pun berpamitan dengan ibunda dan ayahanda dari Tata untuk melaksanakan misinya. Setelah itu mereka berjalan kaki menyusuri sawah untuk menuju gelanggang arena.
Sesampainya disana, bukan pemandangan orang pemanasan otot yang dilihat melainkan sederetan saudagar kaki lima yang memenuhi gerbang depan gelanggang arena. Sekilas nampak berbagai dagangan yang dijual oleh para saudagar, seperti munuman dingin, panas, cimol, pecel, soto ayam, susu segar dan bakso goreng. Terasa aneh memang mengenai keberadaan para saudagar ini, karena biasanya memang para saudagar berdagang di dalam gelanggang arena yang disertai para warga untuk sekedar melepas penat atau melakukan latihan kebugaran. Tata, Seeta dan Adeul berhenti sejenak dan melihat-lihat dan menentukan pilihannya untuk membeli makanan apa. Akhirnya mereka sepakat untuk membeli cimol yang berada tidak jauh dari gerbang gelanggang arena. Butuh sepuluh menit untuk mereka menghabiskan makanan yang mereka beli, dengan harapan petugas gelanggang arena membuka gerbangnya. Belasan menit ditunggu namun sang petugas tak kunjung datang. Rupa-rupanya gelanggang arena tidak dibuka hari ini. Mereka pun memutuskan untuk sekedar jalan – jalan menikmati sejuknya angin yang berhembus, sembari melihat-lihat jajanan para saudagar. Kemudian mereka duduk di kawasan yang tidak terlampau jauh dari kerumunan para saudagar tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB yang artinya masih terlalu pagi hanya untuk sekedar mengelilingi pasar. Mereka bertiga memang sengaja mengulur waktu untuk menghindari kegiatan wajib para pemuda Kuda Melayang yaitu bersih gubug. Merekapun akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasar saat itu juga, karena tidak mau duduk termangu saja di depan gelanggang arena. Kemudian mereka pergi ke jalan besar untuk menunggu andong yang bisa menghantarkan mereka ke pasar.
Sesampainya di pasar, mereka berkeliling mencari barang-barang yang hendak mereka beli sesuai kesepakatan pada pertemuan para pemuda Kuda Melayang semalam. Barang yang hendak dicari diantaranya kertas bergaris, pena tak bertinta dan Kitab Suci Al Quran. Mereka berkeliling pasar, mendatangi kios demi kios para saudagar hingga akhirnya mereka berhenti sejenak di salah satu kios penjual alat dandan. Tentu untuk pemudi layaknya Tata, Seeta dan Adeul, alat dandan memang sangat penting. Terlebih lagi alat dandan yang sedang mereka cari adalah alat penebal alis mata, karena memang untuk ukuran alis pemudi di gubug mereka paling sedikit. Sebetulnya mereka sudah bangga dengan alis mereka, karena hanya mereka yang memilikinya. Apalagi Raja di gubug juga tidak mempermasalahkan hal itu. Selesai membeli alat dandan, mereka melanjutkan berkeliling pasar. Namun pilihan terakhir jatuh pada kios alat kesekretariatan yang berada di pasar bagian depan. Setelah itu mereka kembali pulang ke gubug mereka dengan menunggangi andong kuning hingga jalan utama gubug mereka saja, lalu diteruskan dengan berjalan kaki. Sesampainya di gubug, kegiatan para pemuda Kuda Melayang rupanya baru saja selesai. Sehingga mereka bertiga telah benar-benar menyelesaikan misi mereka.

            Pada siang harinya sekitar pukul 13.30 WIB, kawan lama Tata dan Seeta datang menemui mereka bersama adik perempuannya. Nama kawan lama itu adalah Inga. Sudah sekian tahun memang mereka tidak saling sapa, dikarenakan kegiatan mereka yang begitu padat. Ya walaupun pekerjaan mereka hanya sebatas pelayan kerajaan, namun hal yang harus dihargai adalah kegigihan pengabdiannya kepada negara mereka masing – masing. Kedatangan Inga ke gubug Tata dan Seeta bukan kebetulan semata, melainkan sebuah kesengajaan. Mereka bertiga telah saling janjian untuk pergi bersama menengok kawan lama mereka yang pada hari ini tengah mengadakan hajatan besar yakni penyatuan dua keluarga. Nama kawan lama yang punya hajatan tersebut adalah Sinaraya. Gubug halamannya tidak jauh dari gubug Tata, yakni hanya berselang 1 km saja. Inga, Tata, Seeta dan Maria (Adik Inga) memiliki rencana untuk berangkat pukul 14.00 WIB, karena sembari menunggu kawan mereka yang lain yang bernama Krishna. 30 menit berlalu, Krishna tak kunjung datang. Mereka pun memutuskan untuk pergi dahulu dan berpesan pada Krishna untuk bertemu di TKP saja. Sesampainya di TKP alias gubugnya Sinaraya, mereka hanya berdiri terdiam dan termangu. Tidak disangka mereka datang diwaktu yang tidaklah  tepat. Rupa – rupanya, puncak acara hajatan sedang berlangsung. Mau tidak mau mereka menunggu sampai acara puncak selesai dengan harapan Krishna juga segera hadir. Permasalahan terjadi ketika Maria ternyata memiliki acara lain, sehingga Inga memilih untuk pulang ke gubugnya terlebih dahulu untuk mengantarkan Maria sekaligus mengambil kuda mesin miliknya. Tata dan Seeta memilih untuk mengikuti serangkaian agenda pundak hajatan. 1.5 jam menunggu, Inga dan Krishna belum juga datang. Tata dan Seeta menjadi sedikit bosan. Selama di gubug Sinaraya, Tata dan Seeta duduk mendengarkan pidato sang pemangku adat sembari meminum jamuan yang telah diberikan. Saat menikmati jamuan yang ada, ada beberapa kawan lama mereka berdua yang rupanya merupakan tetangga Sinaraya dan tengah membantu Raya sebagai pelayan tamu. Kawan lama tersebut ada Windora, Rijika dan tentunya sang pujaan pemudi yaitu Babarof. Mengapa bisa seorang Babarof menjadi pujaan para pemudi? Sebetulnya itu hanya kiasan saja. Ia tak benar-benar menjadi idola para pemudi, ya karena kepribadiannya yang sungguh tak terkira. Hal yang pasti dilakukan Baba ketika bertemu Tata dan Seeta adalah menghindar dengan berbagai alasan. Ya yang katanya mau inilah, itulah, ini itu lah. Pokoknya ada saja hal yang mau dilakukan. Bukan hal yang baru lagi untuk Tata dan Seeta karena memang mereka telah lama mengetahuinya semenjak berguru di tempat yang sama. Sebetulnya waktu itu, Baba sangat menyukai Seeta hanya saja suka itu hanya satu pihak, ya bisa dikatakan cinta bertepuk sebelah tangan itu. Bagi para kisana yang normal, tentu itu menjadi hal yang lumrah. Namun bagi orang yang ter ter ter terlalu memendam hasrat bukan hal yang biasa. Boleh lah dikatakan bahwa Baba ini orang yang konsisten. Konsisten untuk terus bercerita kisah sedihnya ke orang lain dan cenderung menjatuhkan Seeta. Kalau mendengar cerita aslinya memang menyedihkan sih gengs. Jujur aku kasihan juga sama dia. Kenapa ga move on aja deh. Daripada sakit hati bertahun-tahun. Kasihan juga tahu gengs, Seetanya. Berasa kayak diterror gitu. Yasudahlah. Doakan saja ya para pembaca sekalian, semoga kasus ini segera kelar. Well itu hanya intermezzo  semata. Buy the way, ceritanya kan tadi sampai bertemu kawan lama bertiga itu yah. Nah aku lanjutin lagi ya. Jadi, Windora, Rijika, Tata dan Seeta berbincang – bincang sejenak melepas rindu. Beberapa menit berlalu, Inga akhirnya datang. Kemudian Tata, Inga dan Seeta menyalami Sinaraya dan pasangannya lalu pulang ke gubug masing-masing. Bersambung..

0
8/08/2015

Hai hai my dear Fellows.
Gunaydin
How're you today?
I hope you always fine.
Well, today I wanna share some picture 'bout minimalism design.
Actually, I'm in my doubtfull whether in 4 or 5 years later, I should buy a new house or renovate my old house. Perharp I renovate once.
Yeah, these are properties which I wanna buy to re-decore my sweet home.
(bagian tangganya) (bagian fotonya) (bagian rak tvnya) (bagian kotak2nya) (bagian background buat ruang TV oke juga hheh) 
 (pendeknya sofa) (bagian kacanya aja hahah) gambar interior rumah minimalis klasik(bagian jendelanya kayanya bagus buat kamar)  (untuk interior rumah bukan sbg jendela beneran) (buat pintu depan pakai gebyok) 
(kalau pintu nanti pintu geser/sliding door gitu deh) 
 (pengen bagian batanya aja)gambar teras rumah dengan bata ekspos (bagian gazebo paling utama)Model taman rumah dan Gazebo indah
(sumber semua gambar : google.com)
oke guys.. itu sebagian dari mimpi aku. Semoga dalam jangka waktu 5 tahun kedepan, I can renovate my house. Hehehe doakan yaa ^_^

0
My Blog My Adventure
Diberdayakan oleh Blogger.

Search on this blog

!--Start Cuteki Calendar Widget v3-->

Followers