Final the Mission dan Bertemu
Kawan Lama
Hari Ahad tanggal 9 Agustus 2015
Pagi ini Tata masih di gubug asalnya dan belum ke
perantauan. Pada malam sebelumnya, dia mendapat mandat dari Sakode seorang
pemuka dari geng seusianya yang bernama Kuda Melayang (aku juga ga begitu paham
maksudnya sih hahaha), untuk mencari – cari dan survei ke pasar untuk membeli
hadiah buat acara pagelaran pesta kebebasan. Acara ini memang rutin
dilaksanakan setiap tahunnya. Disamping itu, ia juga ingin pemanasan otot di
gelanggang arena di daerahnya. Karena setiap hari Ahad, di tempat itu ada
latihan pemanasan otot dan kebugaran yang dipimpin oleh kisana ahli kebugaran
dari wilayah seberang. Nah akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke gelanggang
arena untuk mengikuti latihan kebugaran, baru setelah itu langsung cus ke
pasar. Keesokkan harinya,tepat pukul lima ia bersiap – siap menuju ke
gelanggang. Sembari menunggu kawan lain yaitu Roseeta dan Adeulia yang
menghampirinya, ia menyapu bagian halaman depan dan ruang tamu di gubugnya. Yah
walaupun gubugnya hanya sederhana, namun setidaknya bisa menampung lebih dari
20 orang. Waktu menunjukkan pukul 05.30, sedangkan yang ditunggu sedari tadi
belum menampakkan batang hidungnya. Hatinya mulai cemas, resah dan gelisah
gengs. Tak tahu lagi harus ngapain kah. Ia pun mencoba menghubungi keduanya
dengan telepati kelas raja. 1 kali, 2 kali, 3 kali belum tersambung juga.
Akhirnya ia mengerjakan pekerjaan gubug yang lainnya. Tak berapa lama kemudian
Tata merasakan gelombang yang bergetar dari alat komunikasinya. Rupa – rupanya,
Seeta dan Adeul telah menghubunginya. Beberapa menit kemudian mereka sudah
berada di depan pintu gubugnya. Mereka pun berpamitan dengan ibunda dan
ayahanda dari Tata untuk melaksanakan misinya. Setelah itu mereka berjalan kaki
menyusuri sawah untuk menuju gelanggang arena.
Sesampainya disana, bukan pemandangan
orang pemanasan otot yang dilihat melainkan sederetan saudagar kaki lima yang memenuhi gerbang
depan gelanggang arena. Sekilas nampak berbagai dagangan yang dijual
oleh para saudagar, seperti munuman dingin, panas, cimol, pecel, soto ayam,
susu segar dan bakso goreng. Terasa aneh memang mengenai keberadaan para
saudagar ini, karena biasanya memang para saudagar berdagang di dalam
gelanggang arena yang disertai para warga untuk sekedar melepas penat atau
melakukan latihan kebugaran. Tata, Seeta dan Adeul berhenti sejenak dan
melihat-lihat dan menentukan pilihannya untuk membeli makanan apa. Akhirnya mereka
sepakat untuk membeli cimol yang berada tidak jauh dari gerbang gelanggang
arena. Butuh sepuluh menit untuk mereka menghabiskan makanan yang mereka beli,
dengan harapan petugas gelanggang arena membuka gerbangnya. Belasan menit
ditunggu namun sang petugas tak kunjung datang. Rupa-rupanya gelanggang arena
tidak dibuka hari ini. Mereka pun memutuskan untuk sekedar jalan – jalan menikmati
sejuknya angin yang berhembus, sembari melihat-lihat jajanan para saudagar. Kemudian
mereka duduk di kawasan yang tidak terlampau jauh dari kerumunan para saudagar
tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB yang artinya masih terlalu
pagi hanya untuk sekedar mengelilingi pasar. Mereka bertiga memang sengaja mengulur waktu
untuk menghindari kegiatan wajib para pemuda Kuda Melayang yaitu bersih gubug.
Merekapun akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasar saat itu juga, karena tidak
mau duduk termangu saja di depan gelanggang arena. Kemudian mereka pergi ke
jalan besar untuk menunggu andong yang bisa menghantarkan mereka ke pasar.
Sesampainya di pasar, mereka
berkeliling mencari barang-barang yang hendak mereka beli sesuai kesepakatan
pada pertemuan para pemuda Kuda Melayang semalam. Barang yang hendak dicari
diantaranya kertas bergaris, pena tak bertinta dan Kitab Suci Al Quran. Mereka
berkeliling pasar, mendatangi kios demi kios para saudagar hingga akhirnya
mereka berhenti sejenak di salah satu kios penjual alat dandan. Tentu untuk
pemudi layaknya Tata, Seeta dan Adeul, alat dandan memang sangat penting. Terlebih
lagi alat dandan yang sedang mereka cari adalah alat penebal alis mata, karena
memang untuk ukuran alis pemudi di gubug mereka paling sedikit. Sebetulnya
mereka sudah bangga dengan alis mereka, karena hanya mereka yang memilikinya. Apalagi
Raja di gubug juga tidak mempermasalahkan hal itu. Selesai membeli alat dandan,
mereka melanjutkan berkeliling pasar. Namun pilihan terakhir jatuh pada kios
alat kesekretariatan yang berada di pasar bagian depan. Setelah itu mereka
kembali pulang ke gubug mereka dengan menunggangi andong kuning hingga jalan
utama gubug mereka saja, lalu diteruskan dengan berjalan kaki. Sesampainya di gubug,
kegiatan para pemuda Kuda Melayang rupanya baru saja selesai. Sehingga mereka
bertiga telah benar-benar menyelesaikan misi mereka.
Pada siang
harinya sekitar pukul 13.30 WIB, kawan lama Tata dan Seeta datang menemui
mereka bersama adik perempuannya. Nama kawan lama itu adalah Inga. Sudah sekian
tahun memang mereka tidak saling sapa, dikarenakan kegiatan mereka yang begitu
padat. Ya walaupun pekerjaan mereka hanya sebatas pelayan kerajaan, namun hal
yang harus dihargai adalah kegigihan pengabdiannya kepada negara mereka masing –
masing. Kedatangan Inga ke gubug Tata dan Seeta bukan kebetulan semata,
melainkan sebuah kesengajaan. Mereka bertiga telah saling janjian untuk pergi
bersama menengok kawan lama mereka yang pada hari ini tengah mengadakan hajatan
besar yakni penyatuan dua keluarga. Nama kawan lama yang punya hajatan tersebut
adalah Sinaraya. Gubug halamannya tidak jauh dari gubug Tata, yakni hanya
berselang 1 km saja. Inga, Tata, Seeta dan Maria (Adik Inga) memiliki rencana untuk
berangkat pukul 14.00 WIB, karena sembari menunggu kawan mereka yang lain yang
bernama Krishna. 30 menit berlalu, Krishna tak kunjung datang. Mereka pun
memutuskan untuk pergi dahulu dan berpesan pada Krishna untuk bertemu di TKP
saja. Sesampainya di TKP alias gubugnya Sinaraya, mereka hanya berdiri terdiam
dan termangu. Tidak disangka mereka datang diwaktu yang tidaklah tepat. Rupa – rupanya, puncak acara hajatan
sedang berlangsung. Mau tidak mau mereka menunggu sampai acara puncak selesai
dengan harapan Krishna juga segera hadir. Permasalahan terjadi ketika Maria
ternyata memiliki acara lain, sehingga Inga memilih untuk pulang ke gubugnya
terlebih dahulu untuk mengantarkan Maria sekaligus mengambil kuda mesin
miliknya. Tata dan Seeta memilih untuk mengikuti serangkaian agenda pundak
hajatan. 1.5 jam menunggu, Inga dan Krishna belum juga datang. Tata dan Seeta
menjadi sedikit bosan. Selama di gubug Sinaraya, Tata dan Seeta duduk mendengarkan
pidato sang pemangku adat sembari meminum jamuan yang telah diberikan. Saat
menikmati jamuan yang ada, ada beberapa kawan lama mereka berdua yang rupanya
merupakan tetangga Sinaraya dan tengah membantu Raya sebagai pelayan tamu.
Kawan lama tersebut ada Windora, Rijika dan tentunya sang pujaan pemudi yaitu
Babarof. Mengapa bisa seorang Babarof menjadi pujaan para pemudi? Sebetulnya
itu hanya kiasan saja. Ia tak benar-benar menjadi idola para pemudi, ya karena kepribadiannya yang
sungguh tak terkira. Hal yang pasti dilakukan Baba ketika bertemu Tata dan
Seeta adalah menghindar dengan berbagai alasan. Ya yang katanya mau inilah, itulah,
ini itu lah. Pokoknya ada saja hal yang mau dilakukan. Bukan hal yang baru lagi
untuk Tata dan Seeta karena memang mereka telah lama mengetahuinya semenjak
berguru di tempat yang sama. Sebetulnya waktu itu, Baba sangat menyukai Seeta
hanya saja suka itu hanya satu pihak, ya bisa dikatakan cinta bertepuk sebelah
tangan itu. Bagi para kisana yang normal, tentu itu menjadi hal yang lumrah. Namun
bagi orang yang ter ter ter terlalu memendam hasrat bukan hal yang biasa. Boleh
lah dikatakan bahwa Baba ini orang yang konsisten. Konsisten untuk terus
bercerita kisah sedihnya ke orang lain dan cenderung menjatuhkan Seeta. Kalau
mendengar cerita aslinya memang menyedihkan sih gengs. Jujur aku kasihan juga
sama dia. Kenapa ga move on aja deh. Daripada sakit hati bertahun-tahun.
Kasihan juga tahu gengs, Seetanya. Berasa kayak diterror gitu. Yasudahlah.
Doakan saja ya para pembaca sekalian, semoga kasus ini segera kelar. Well
itu hanya intermezzo semata. Buy the
way, ceritanya kan tadi sampai bertemu kawan lama bertiga itu yah. Nah aku
lanjutin lagi ya. Jadi, Windora, Rijika, Tata dan Seeta berbincang – bincang sejenak
melepas rindu. Beberapa menit berlalu, Inga akhirnya datang. Kemudian Tata,
Inga dan Seeta menyalami Sinaraya dan pasangannya lalu pulang ke gubug
masing-masing. Bersambung..





