contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

11/21/2015

Hari Sabtu tanggal 21 November 2015
PDATT (Persiapan Dewa Agung Tingkat Tengah)
Halo semangat pagi!!!

Hari ini aku mau nyeritain kegiatan terdekat Purita di Kerajaan Antawirya. 2 hari yang lalu yaitu hari Sabtu dan Minggu, Tata mengikuti kegiatan persiapan dewa agung tingkat tengah (PDATT). Dia ga mengikuti PDATT sebagai cadagung alias calon dewa agung tapi hanya sebagai pelayan saja. Hari pertama PDATT, Tata menjadi pemerhati waktu sebagai peringatan kepada pengisi kegiatan. Pengisi kegiatan sangatlah hebat. Ada 4 pengisi waktu itu yakni bekas raja Ketawir 2 tahun yang lalu, bekas wakil raja setahun silam, bekas panglima abdi kerakyatan dan sang Raja saat ini. Keempat pengisi ini memang memiliki kesaktiannya masing-masing, namun sebetulnya tetap ada benang merah yang menyambungkan kesaktian keempat dewan – dewan kehormatan tersebut, yakni sama-sama pernah menduduki tahta paling tinggi diantara rakyat Ketawir.
Selama keberjalanan acara, Tata hanya jagongan (read:duduk) di pendopo paling belakang sembari mengawasi para cadagung. Ada hal menarik yang dapat dipetik Tata waktu itu, yakni ketika sang raja 2 tahun silam berkata bahwasanya lebih baik rakyat Ketawir jagong manis dan diam saja, tak usah lah pandai-pandai menghebohkan kerajaan dengan melakukan penyerbuan Nagari Besar. Karena ketika para rakyat Kerajaan Kesatuan di Nagari Besar mengangkat bambunya, maka akan berimbas pada saudagar khususnya yang sedang menanamkan modalnya di suatu wilayah di Nagari Besar. Yang menjadi menarik adalah karena pada dasarnya dahulu kala sang raja 2 tahun silam juga termasuk warga biasa pada salah satu Kerajaan Kesatuan yakni Ketawir. Sedangkan ketika ia telah mengepakkan sayapnya di luar Kerajaan, sang baginda justru berkata demikian. Sungguh ironi ketika ternyata banyak dewan kehormatan yang dulu ketika masih menjadi warga Kerajaan Kesatuan memiliki jiwa membara untuk sesering mungkin mengangkat bambunya menyerang Nagari Besar, justru kini tidak lagi memiliki semangat yang sama ketika telah keluar dari Kerajaan Kesatuan. Mungkin inilah yang sangat disayangkan tentunya oleh para warga khususnya warga peneliti dan pedagang atas ketidaksikronisasi antara ucapan dan perbuatan di awal dengan diakhir. Mungkin inilah yang semakin membuat lesunya semangat para warga biasa untuk mengangkat bambunya lagi. Lama – kelamaan mungkin mereka akan lebih memilih untuk mengukir bambunya menjadi aksesoris – aksesoris hidup dan kenangan manis daripada mengangkatnya namun mendapati akhir yang sia-sia.
PDATT Day 2 yakni pelepasan para cadagung ke wilayah – wilayah terpencil bagian Nagari Besar Jarangasem yang tidak disangka ternyata ada bagian Nagari Besar Jarangasem yang masih serba kekurangan. Kalau adik Tata bilangnya sih “dibalik Istana mewah terdapat pendopo – pendopo kecil yang terabaikan”. Ironi memang untuk Nagari Besar Jarangasem yang begitu padatnya masih terdapat banyak ketimpangan diwilayahnya. Bagi sebagian rakyat yang sudah pernah berekspansi ke Jarangasem pasti akan sedikit terkejut dengan realita yang ada. Terlebih lagi bagi mereka yang selama ini hanya menetap di lingkungan Istana, hanya bisa melihat keindahan wilayah Istana di bagian depan. Mereka tak tahu bahwa sebetulnya banyak sebagian warga Jarangasem yang belum begitu merasakan kemakmuran di antara para warga lingkungan Istana lainnya. Harapannya memang para Dewan Kehormatan dan Raja Nagari Besar Jarangasem ikut menjelajahi wilayahnya dan membagikan kemakmuran seadil-adilnya.
Oke itu sekilas keprihatinan saya sebagai penulis yang ikut prihatin akan dongeng Tata. Well, dibalik itu, Tata sesungguhnya merasakan kebahagiaan sebagai dirinya pribadi. Setelah adanya kesimpang siuran infomrasi terkait lokasi wilayah yang akan ia sambangi bersama pelayan lainnya, akhirnya ia memiliki partner yang telah mengetahui akses terdekat menuju wilayah itu. sehingga ia dapat menyambangi wilayah dengan cukup tenang. Rupa-rupanya partner barunya ini berasal dari Kebatan. Dia ambil bidang Tabib dan Pengobatan. Waaaww seorang tabib. Sebetulnya ga ada yang menarik sih dengan hal ini. Hanya saja di Ketawir, seorang Tabib adalah profesi idaman semua warga. Nama partner Tata ini adalah Kindo. Kindo ini adalah pelayan laki – laki yang sekarang sedang berkarya di bagian pelayanan abdi rakyat. Tak hanya berdua, mereka juga ditemani oleh adik sesama pelayan dari Kenyur yaitu Richy. Richy dan Kindo bagaikan pengawal Tata karena Tata hanya satu-satunya pelayan wanita yang bertugas mengawasi para cadagung. Selama perjalanan, Tata dan Kindo berbicara banyak hal. Mulai dari kondisi jalan setapak yang mereka lalui, kondisi wilayahnya dan banyak hal lainnya. Sesampainya di pendopo utama dewan adat di wilayah tujuan, Tata mengarahkan para cadagung untuk menyebar ke seluruh wilayah tersebut untuk melihat – lihat kondisi sesungguhnya. Sembari menunggu mereka selesai, Tata dan Richy pergi mencari rumah dewan adat tingkat 2 sedangkan Kindo menjaga para kuda tunggangan agar tidak kemana-mana. Tata dan Richy berkeliling dari pendopo satu ke pendopo lain akhirnya mereka menemukan rumah dewan adat 2. Setelah berbincang cukup lama akhirnya mereka berdua kembali lagi ke pendopo utama menemui Kindo. Tinggal mereka bertiga saja di tempat itu, karena cadagung sedang melaksanakan tugasnya. Untungnya memang mereka bertiga bukanlah orang yang pendiam. Ada bahasan – bahasan menarik yang semakin membuat mereka betah untuk ngobrol bertiga. Mulai pengalamannya menjadi pelayan, pengalamannya di bidang kelimuannya masing – masing hingga obrolan yang sifatnya pribadi alias tentang kejonesan mereka. Walaupun mereka tinggal di kerajaan sebagai pelayan, namun mereka cukup apdet istilah – istilah warga perantauan seperti jones (jomblo happiness), baper (banyak perhatian) dan istilah lainnya yang sedang nge-hits saat ini. Saking senengnya keasyikan ngobrol, sampai akhirnya mereka diperingati oleh dewan kemananan pendopo utama untuk memperkecil volume mereka bertiga. Ya peringatannya tidak dengan marah – marah atau bagaimana, hanya melalui sebuah gedoran kecil di tiang pendopo. Ga berapa lama volume suara mereka bertiga kembali mengeras karena ketawa ketiwi tentang topik bahasan mereka.
Bukan pertama kali memang Tata merasa bahagia dan enjoy ngobrol ngalor – ngidul dengan orang yang baru dikenalnya. Sebetulnya Tata mudah menyesuaikan diri cuma ya bergantung pada siapa lawan bicaranya. Nah kebetulan Richy dan Kindo adalah orang yang cukup seide dengan Tata, sehingga mereka bisa enjoy mau ngobrolin apa aja. Well, inilah akhir keseruan cerita kali ini. Semoga cerita – cerita berikutnya ga kalah menariknya dengan cerita sebelumnya.

Regard,

Writter

0

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Search on this blog

!--Start Cuteki Calendar Widget v3-->

Followers