contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

8/20/2015

Final the Mission dan Bertemu Kawan Lama
Hari Ahad tanggal 9 Agustus 2015
Pagi ini Tata masih di gubug asalnya dan belum ke perantauan. Pada malam sebelumnya, dia mendapat mandat dari Sakode seorang pemuka dari geng seusianya yang bernama Kuda Melayang (aku juga ga begitu paham maksudnya sih hahaha), untuk mencari – cari dan survei ke pasar untuk membeli hadiah buat acara pagelaran pesta kebebasan. Acara ini memang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Disamping itu, ia juga ingin pemanasan otot di gelanggang arena di daerahnya. Karena setiap hari Ahad, di tempat itu ada latihan pemanasan otot dan kebugaran yang dipimpin oleh kisana ahli kebugaran dari wilayah seberang. Nah akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke gelanggang arena untuk mengikuti latihan kebugaran, baru setelah itu langsung cus ke pasar. Keesokkan harinya,tepat pukul lima ia bersiap – siap menuju ke gelanggang. Sembari menunggu kawan lain yaitu Roseeta dan Adeulia yang menghampirinya, ia menyapu bagian halaman depan dan ruang tamu di gubugnya. Yah walaupun gubugnya hanya sederhana, namun setidaknya bisa menampung lebih dari 20 orang. Waktu menunjukkan pukul 05.30, sedangkan yang ditunggu sedari tadi belum menampakkan batang hidungnya. Hatinya mulai cemas, resah dan gelisah gengs. Tak tahu lagi harus ngapain kah. Ia pun mencoba menghubungi keduanya dengan telepati kelas raja. 1 kali, 2 kali, 3 kali belum tersambung juga. Akhirnya ia mengerjakan pekerjaan gubug yang lainnya. Tak berapa lama kemudian Tata merasakan gelombang yang bergetar dari alat komunikasinya. Rupa – rupanya, Seeta dan Adeul telah menghubunginya. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di depan pintu gubugnya. Mereka pun berpamitan dengan ibunda dan ayahanda dari Tata untuk melaksanakan misinya. Setelah itu mereka berjalan kaki menyusuri sawah untuk menuju gelanggang arena.
Sesampainya disana, bukan pemandangan orang pemanasan otot yang dilihat melainkan sederetan saudagar kaki lima yang memenuhi gerbang depan gelanggang arena. Sekilas nampak berbagai dagangan yang dijual oleh para saudagar, seperti munuman dingin, panas, cimol, pecel, soto ayam, susu segar dan bakso goreng. Terasa aneh memang mengenai keberadaan para saudagar ini, karena biasanya memang para saudagar berdagang di dalam gelanggang arena yang disertai para warga untuk sekedar melepas penat atau melakukan latihan kebugaran. Tata, Seeta dan Adeul berhenti sejenak dan melihat-lihat dan menentukan pilihannya untuk membeli makanan apa. Akhirnya mereka sepakat untuk membeli cimol yang berada tidak jauh dari gerbang gelanggang arena. Butuh sepuluh menit untuk mereka menghabiskan makanan yang mereka beli, dengan harapan petugas gelanggang arena membuka gerbangnya. Belasan menit ditunggu namun sang petugas tak kunjung datang. Rupa-rupanya gelanggang arena tidak dibuka hari ini. Mereka pun memutuskan untuk sekedar jalan – jalan menikmati sejuknya angin yang berhembus, sembari melihat-lihat jajanan para saudagar. Kemudian mereka duduk di kawasan yang tidak terlampau jauh dari kerumunan para saudagar tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB yang artinya masih terlalu pagi hanya untuk sekedar mengelilingi pasar. Mereka bertiga memang sengaja mengulur waktu untuk menghindari kegiatan wajib para pemuda Kuda Melayang yaitu bersih gubug. Merekapun akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasar saat itu juga, karena tidak mau duduk termangu saja di depan gelanggang arena. Kemudian mereka pergi ke jalan besar untuk menunggu andong yang bisa menghantarkan mereka ke pasar.
Sesampainya di pasar, mereka berkeliling mencari barang-barang yang hendak mereka beli sesuai kesepakatan pada pertemuan para pemuda Kuda Melayang semalam. Barang yang hendak dicari diantaranya kertas bergaris, pena tak bertinta dan Kitab Suci Al Quran. Mereka berkeliling pasar, mendatangi kios demi kios para saudagar hingga akhirnya mereka berhenti sejenak di salah satu kios penjual alat dandan. Tentu untuk pemudi layaknya Tata, Seeta dan Adeul, alat dandan memang sangat penting. Terlebih lagi alat dandan yang sedang mereka cari adalah alat penebal alis mata, karena memang untuk ukuran alis pemudi di gubug mereka paling sedikit. Sebetulnya mereka sudah bangga dengan alis mereka, karena hanya mereka yang memilikinya. Apalagi Raja di gubug juga tidak mempermasalahkan hal itu. Selesai membeli alat dandan, mereka melanjutkan berkeliling pasar. Namun pilihan terakhir jatuh pada kios alat kesekretariatan yang berada di pasar bagian depan. Setelah itu mereka kembali pulang ke gubug mereka dengan menunggangi andong kuning hingga jalan utama gubug mereka saja, lalu diteruskan dengan berjalan kaki. Sesampainya di gubug, kegiatan para pemuda Kuda Melayang rupanya baru saja selesai. Sehingga mereka bertiga telah benar-benar menyelesaikan misi mereka.

            Pada siang harinya sekitar pukul 13.30 WIB, kawan lama Tata dan Seeta datang menemui mereka bersama adik perempuannya. Nama kawan lama itu adalah Inga. Sudah sekian tahun memang mereka tidak saling sapa, dikarenakan kegiatan mereka yang begitu padat. Ya walaupun pekerjaan mereka hanya sebatas pelayan kerajaan, namun hal yang harus dihargai adalah kegigihan pengabdiannya kepada negara mereka masing – masing. Kedatangan Inga ke gubug Tata dan Seeta bukan kebetulan semata, melainkan sebuah kesengajaan. Mereka bertiga telah saling janjian untuk pergi bersama menengok kawan lama mereka yang pada hari ini tengah mengadakan hajatan besar yakni penyatuan dua keluarga. Nama kawan lama yang punya hajatan tersebut adalah Sinaraya. Gubug halamannya tidak jauh dari gubug Tata, yakni hanya berselang 1 km saja. Inga, Tata, Seeta dan Maria (Adik Inga) memiliki rencana untuk berangkat pukul 14.00 WIB, karena sembari menunggu kawan mereka yang lain yang bernama Krishna. 30 menit berlalu, Krishna tak kunjung datang. Mereka pun memutuskan untuk pergi dahulu dan berpesan pada Krishna untuk bertemu di TKP saja. Sesampainya di TKP alias gubugnya Sinaraya, mereka hanya berdiri terdiam dan termangu. Tidak disangka mereka datang diwaktu yang tidaklah  tepat. Rupa – rupanya, puncak acara hajatan sedang berlangsung. Mau tidak mau mereka menunggu sampai acara puncak selesai dengan harapan Krishna juga segera hadir. Permasalahan terjadi ketika Maria ternyata memiliki acara lain, sehingga Inga memilih untuk pulang ke gubugnya terlebih dahulu untuk mengantarkan Maria sekaligus mengambil kuda mesin miliknya. Tata dan Seeta memilih untuk mengikuti serangkaian agenda pundak hajatan. 1.5 jam menunggu, Inga dan Krishna belum juga datang. Tata dan Seeta menjadi sedikit bosan. Selama di gubug Sinaraya, Tata dan Seeta duduk mendengarkan pidato sang pemangku adat sembari meminum jamuan yang telah diberikan. Saat menikmati jamuan yang ada, ada beberapa kawan lama mereka berdua yang rupanya merupakan tetangga Sinaraya dan tengah membantu Raya sebagai pelayan tamu. Kawan lama tersebut ada Windora, Rijika dan tentunya sang pujaan pemudi yaitu Babarof. Mengapa bisa seorang Babarof menjadi pujaan para pemudi? Sebetulnya itu hanya kiasan saja. Ia tak benar-benar menjadi idola para pemudi, ya karena kepribadiannya yang sungguh tak terkira. Hal yang pasti dilakukan Baba ketika bertemu Tata dan Seeta adalah menghindar dengan berbagai alasan. Ya yang katanya mau inilah, itulah, ini itu lah. Pokoknya ada saja hal yang mau dilakukan. Bukan hal yang baru lagi untuk Tata dan Seeta karena memang mereka telah lama mengetahuinya semenjak berguru di tempat yang sama. Sebetulnya waktu itu, Baba sangat menyukai Seeta hanya saja suka itu hanya satu pihak, ya bisa dikatakan cinta bertepuk sebelah tangan itu. Bagi para kisana yang normal, tentu itu menjadi hal yang lumrah. Namun bagi orang yang ter ter ter terlalu memendam hasrat bukan hal yang biasa. Boleh lah dikatakan bahwa Baba ini orang yang konsisten. Konsisten untuk terus bercerita kisah sedihnya ke orang lain dan cenderung menjatuhkan Seeta. Kalau mendengar cerita aslinya memang menyedihkan sih gengs. Jujur aku kasihan juga sama dia. Kenapa ga move on aja deh. Daripada sakit hati bertahun-tahun. Kasihan juga tahu gengs, Seetanya. Berasa kayak diterror gitu. Yasudahlah. Doakan saja ya para pembaca sekalian, semoga kasus ini segera kelar. Well itu hanya intermezzo  semata. Buy the way, ceritanya kan tadi sampai bertemu kawan lama bertiga itu yah. Nah aku lanjutin lagi ya. Jadi, Windora, Rijika, Tata dan Seeta berbincang – bincang sejenak melepas rindu. Beberapa menit berlalu, Inga akhirnya datang. Kemudian Tata, Inga dan Seeta menyalami Sinaraya dan pasangannya lalu pulang ke gubug masing-masing. Bersambung..

0

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Search on this blog

!--Start Cuteki Calendar Widget v3-->

Followers