Bagian VI (dari Pelayan menjadi Dewan Pemula)
11 Desember 2015
Hallo.. tanggal
berapa nih? 11 Desember yah. Hmmm sudah lama ya kayanya belum upgrade dongeng
tentang Purita dan Kerajaan – kerajaannya. Oke hari ini aku mau nyeritain lagi
nih pengembaraan Purita. Bulan ini adalah bulan – bulan terpadatnya seluruh
kerajaan di lingkungan Ketawir. Di bulan ini terdapat banyak sekali dewa pemula
yang menawarkan diri untuk berkarya di masing – masing kerajaan dengan menjadi
dewa agung. Tahun ini memang sedikit berbeda dari
tahun – tahun sebelumnya, dimana persaingan diantara para dewan pemula ini tidaklah
terlalu ketat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara pandang mereka dengan
cadagung lainnya. Mereka, para dewan pemula ini justru saling mendukung dalam
proses untuk mendapatkan tahta terbesar di kerajaan bagian ini. Walaupun mereka
harus saling berkompetisi untuk mendapatkan dukungan dari para pelayan biasa. Ya
mungkin Tata hanya melihat dari sisi luarnya saja, karena memang dia hanya
memantau berdasarkan hasil pelaporan kegiatan oleh dewan penyiaran kerajaan bagian
(DPKB) maupun dari dewan penyiaran kerajaan umum (DPKU). Berdasarkan hasil pemantauan Tata dari berbagai DPKB, ternyata ada
beberapa kerajaan bagian yang mengalami pelanggaran dalam penyeleksian cadagung.
Namun akhirnya permasalahan tersebut dapat segera terselesaikan. So Purita said
“Alhamdulillah” for that. Well, tujuan – tujuan cadagung yang tertuang dalam
visi misi dan rencana strategis mereka pun juga dikemas dengan cara yang rapih
dan keren. Selain kemasannya yang menarik ada hal lagi yang menjadi pemanis
dari itu, yakni tagline yang mereka usung. Banyak sekali tagline unik yang
diusung para cadagung. Mulai dari kamu, gue, yuklah, esensi, suka dan lain
lain. Tagline – tagline keren ini tentunya ga sembarangan dong. Ada makna –
makna khusus dibalik tagline ini. Yang jelas dan pasti tagline yang mereka usung
mewakili semangat perjuangan para cadagung untuk melakukan pengabdiannya selama
setahun kedepan jika mereka berhasil dianugerahi tahta tersebut.
Baru
– baru ini Tata juga mendapatkan tawaran oleh dewa agung tempat ia bekerja. Jadi
Tata ditawari untuk menjadi penasehat pusat pelayanan kerajaan. Awalnya Tata
masih ragu gitu, apakah tawaran itu akan diambil ataukah di berikan ke pelayan
lain saja yang lebih mumpuni kesaktiannya. Tata merasa belum pantas menjadi
penasehat karena kesaktian Tata yang belum lah seberapa. Dia masih bingung gitu
gengs. Tapi melihat rekan sesama pelayan Kelanam yang terlebih dahulu diangkat
menjadi penasehat, serta motivasi – motivasi yang pernah ia dengar, ia malah
menjadi dilema. Ada satu riwayat yang disampaikan oleh bekas dewa agung
Kerajaan Penyembuhan kepada siapapun yang mau merubah level pengabdiannya “tahta
mungkin akan diberikan kepada mereka yang masih ragu akan kapasitas dirinya
sebagai perwujudan pendewasaan diri. Tapi tahta juga akan diberikan kepada
mereka yang terlalu yakin akan kapasitas dirinya sebagai bentuk kesiapan diri
untuk bertanggungjawab akan tahta yang lebih besar.” Namun Tata berpikir “ah
betapa kurang pantasnya aku akan tahta itu”. Menjadi penasehat pusat pelayanan
kerajaan tidak hanya sekedar untuk keren – kerennan agar dikenal banyak rakyat.
Berada pada Tahta itu juga harus siap mengajak pelayan lain untuk berkarya
bersama, setidaknya bisa menebarkan energi positif ke pelayan lain agar pelayan
lain mau mengeksplorasi potensi dalam dirinya serta mau mengembangkannya. Berada
pada tahta itu juga harus siap mendengarkan keluh kesah pelayan dan para rakyat
biasa, yang kemudian mampu memberikan tawaran solusi. Berada pada tahta itu ga
main – main karena ini menyangkut responsibility. Berada pada tahta itu pula,
berarti harus mampu melihat proses yang sedang dijalani pelayan lain agar
setingkat dengan dia yang berada pada tahta itu. Walaupun sudah mendapat
anugerah tahta, itu bukanlah hal yang harus membuat seorang palayan atau dewan
kemudian tidak mau melihat proses rekannya. Justru berada pada tingkat itu, dia
harus mampu memberikan energi positif ke rekannya agar terus berproses dan
berkarya. Berada pada tingkat itu bukan berarti dia dengan seenak hati
mematahkan energi kesaktian rekan lainnya, walaupun hanya sebatas joke. Berada
pada tingkat itu berarti harus siap menjadi panutan pelayan dan rakyat biasa
yang artinya harus mampu menjaga lisan dan perilaku. Pepatah Jawa mengatakan “Ajining
diri saka lathi, ajining raga saka busana”. I think it almost equal with “The
right man on the right place”.
Riwayat
– riwayat akan tahta banyak sekali di dengung – dengungkan, sehingga hal itulah
yang semakin membuat Tata memiliki banyak renungan. Namun ada riwayat lain yang
menyatakan bahwa kalau tak ambil tahta itu, kamu ga akan tahu bagaimana cara
kamu mengemban tahta itu. Kamu ga akan pernah tahu bagaimana cara yang tepat
untuk menciptakan esensi di suatu iklim. Jadi ambillah kesempatan itu dan
tetaplah rendah hati. biarkan orang lain yang menilai caramu memimpin sebagai
perbaikan akan dirimu untuk karya mu selanjutnya. Untuk Tata, saya sebagai
penulis kisah pengembaraanmu di kerajaan yang kau singgahi sekarang hanya bisa
mengatakan bahwa semua pilihan ada di tanganmu. Apapun langkah yang kau ambil, selalu
libatkanlah Tuhan. Karena hanya kuasa sang Gusti Pangeran lah yang mampu
menunjukkan jalan terbaik untukmu. Hanya dengan awali dengan basmallah serta
akhiri dengan istighfar dan hamdalah. Berpegang teguh dengan agama yang kau
imani. Ingatlah bahwa agama ageming aji. Syemangat Tataaaa J.





